7 Tingkah Laku Memalukan Orang dengan Keterampilan Sosial Kurang di Depan Umum, Begini Penjelasannya Menurut Psikologi
kirim keluar negeri 081-83-777-49 - Belum tentu setiap individu dilahirkan dengan bakat berinteraksi sosial yang luar biasa.
Beberapa individu sepertinya dapat mengurai ketegangan dengan cepat, menyebabkan orang lain tergelak, atau memahami petunjuk sosial dengan teliti.
Namun, untuk mereka yang memiliki kemampuan interpersonal yang rendah—entah disebabkan oleh kurangnya pengalaman, ketakutan akan interaksi sosial, atau pendidikan sejak dini yang tidak memadai—berurusan dengan situasi di hadapan publik dapat menjadi semacam ladang ranjau: dipenuhi dengan risiko kesalahpahaman.
Yang memperumit masalah, sebagian besar dari tindakan tidak sopan tersebut dilakukan secara tak sadar.
Mereka mungkin menganggap semuanya biasa, tetapi orang-orang disekitar mereka merasakan sesuatu yang aneh atau canggung.
Menurut laporan dari Geediting pada hari Kamis (24/4), ada tujuh perilaku memalukan yang kerap ditunjukkan oleh individu dengan kemampuan berinteraksi sosial yang kurang baik di hadapan publik dan biasanya mereka sendiri tak sadar akan hal itu.
1. Mengendalikan Percakapan tanpa Membuka Kesempatan bagi Orang lain untuk Berkata
Satu kesalahan sosial yang sering terjadi ialah menghabiskan waktu hanya membicarakan diri sendiri dan tidak menyisihkan ruang bagi pihak lain untuk ikut serta dalam dialog tersebut.
Menurut psikolog sosial, hal ini dapat terwujud lantaran individu yang memiliki kemampuan interpersonal kurang memadai cenderung tak sensitif terhadap sinyal-sinyal non-verbal semacam rasa jemu, minimnya minat, ataupun hasrat pasangan dialog untuk menginterupsi.
Mereka membuat monolog daripada membentuk dialog.
Mereka mungkin merasa sedang tampil sebagai individu yang menarik, namun sebenarnya orang lain telah "kehilangan koneksi" mulai detik kelima.
2. Mengeluarkan Tawa pada Sesuatu yang Tak Serius Atau di Saat Yang tak Tepat
Menertawai merupakan senjata sosial yang powerful.
Namun, bila seseorang tergelak pada waktu yang tidak tepat—seperti ketika orang lain tengah menceritakan kisah yang menyedihkan atau penting—itulah yang malahan menghasilkan rasa canggung yang sangat intens.
Berdasarkan penelitian di Journal of Nonverbal Behavior, individu yang memiliki hambatan dalam berinteraksi sosial umumnya gagal memahami ekspresi wajah atau intonasi suara dari pihak lain, menyebabkan mereka menafsirkan kondisi secara keliru dan merespons dengan cara yang tak tepat.
Terkadang, tawanya bukan disebabkan oleh rasa humor yang ada, melainkan sebagai cara mengurangi tekanan emosional pribadi.
3. Kurang Memelihara Ruang Pribadi (Personal Space)
Kami semua memiliki area aman secara fizikal, dan melampaui batasan tersebut dapat menyebabkan seseorang merasa tidak selesa, atau bahkan terancam.
Sayangnya, individu yang memiliki kemampuan interaksi sosial kurang baik cenderung tak sadar akan kondisi tersebut.
Mereka bisa berdiri terlalu dekat saat berbicara, atau menyentuh orang lain tanpa membaca reaksi tubuh yang menunjukkan ketidaksukaan.
Menurut psikologi lingkungan, persepsi tentang ruang pribadi sangat penting dalam interaksi sosial.
Melanggar zona ini secara tidak sadar membuat orang lain ingin segera mengakhiri percakapan.
4. Menjawab dengan Nada Suara atau Ekspresi Wajah yang Tidak Sesuai
Ekspresi wajah serta intonasi suara perlu sejalan dengan pesan yang disampaikan.
Tetapi, orang-orang yang kurang terampil dalam hal interaksi sosial sering kali tidak dapat menampilkan ekspresi wajah yang tepat—seperti misalnya tampak tanpa emosi ketika mendengarkan kisah yang membahagiakan, atau menggunakan intonasi monoton ketika berbicara tentang sesuatu yang harusnya membangkitkan antusiasme.
Hal ini menyebabkan lawan bicara menjadi bingung: "Apakah dia sungguh-sungguh prihatin?" atau "Mungkin aku sedang merepotkannya?"
Ketidaksesuaian di antara pesan lisan dan tidak lisan menghasilkan tensi dalam berkomunikasi.
5. Mendiskusikan Isu yang Tak Berkaitan atau Sangat Privasi di Depan Publik
Orang dengan kemampuan sosial yang kurang cenderung sulit mengenali pembatasan dalam bertutur kata.
Mereka bisa membahas topik yang terlalu pribadi, memalukan, atau bahkan menjijikkan dalam konteks yang tidak tepat—seperti saat makan malam bersama orang baru.
Menurut teori pragmatik sosial, mereka mengalami kesulitan dalam menyesuaikan isi pembicaraan dengan konteks sosial.
Hal ini membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman, meski si pembicara merasa dirinya hanya sedang “jujur” atau “spontan”.
6. Belum Paham Waktu yang Tepat untuk Menutup Pembicaraan
Orang yang memiliki kesulitan dalam bersosialisasi umumnya tak sadar saat obrolan telah berakhir.
Mereka masih dapat terus berkomunikasi meski lawan bicaranya telah memberikan indikasi untuk meninggalkan percakapan, seperti memeriksa waktu, mengambil langkah mundur, atau berkata, "Hai, saya perlu buru-buru ke suatu tempat."
Dalam bidang psikologi komunikasi, hal tersebut dikenal sebagai ketidaktepatan dalam mengenali "tanda penutup percakapan".
Sehingga, mereka dapat dilihat sebagai orang yang gangguan walaupun memang tidak bermaksud demikian.
7. Hindari Saling Bertemu Pandang Secara Utuh atau Tatapan yang Terlalu Fokus
Pandangan mata yang sesuai dapat membentuk kepercayaan dan mengindikasikan minat terhadap orang yang berbicara dengan kita.
Namun, orang-orang dengan keterampilan sosial yang kurang sering berada di kedua puncak tersebut: sama sekali tidak melihat ke arah lain (membuat mereka tampak kurang percaya diri atau tak peduli), atau justru memandangi terus-menerus (menyebabkan situasinya menjadi menyeramkan).
Berdasarkan pendekatan psikologi evolusi, pertemuan pandangan mata yang tepat merupakan elemen krusial dalam interaksi tanpa kata.
Tidak seimbangnya situasi tersebut menghasilkan tensi berlebihan pada komunikasi.
Penyelesaian: Ketakutan Bisa Dihindari, Pemahaman Adalah Kuncinya
Berita bagusnya adalah bahwa kemampuan interpersonal tidak bersifat tetap. Kemampuan ini dapat diasah, dipelajari, serta dikembangkan lebih lanjut.
Tahap awal yang sangat krusial ialah mengenali kebiasaan tingkah laku kita masing-masing.
Dengan mengamati respons orang lain, bersedia menerima kritik, serta memahami latar belakang sosialnya, secara bertahap seseorang dapat tumbuh menjadi individu yang lebih ramah, simpatetik, dan percaya diri saat berinteraksi dengan orang banyak.
Di era yang selalu bergerak dengan cepat ini, memiliki empati terhadap sesama dapat menciptakan dampak signifikan—not hanya bagi diri kita sendiri tetapi juga bagi lingkungan sekeliling kita.